23 Agu 2012

Naik Bus Ber-“WiFi” Gratis


Menikmati fasilitas internet (WiFi) gratis di warung kopi? Itu sudah biasa bagi masyarakat Aceh. Bahkan sejak 2007 sebagian besar warung kopi di Aceh telah menyediakan fasilitas tersebut untuk pelanggan mereka.
Namun, bagaimana jika menikmati internet gratis di dalam bus? Ini fenomena baru di Aceh, malah di Indonesia.
Mahdi termasuk pria yang beruntung karena bisa menikmati layanan itu di provinsi yang baru saja terlepas dari peperangan dan bencana tsunami tersebut. “Pekerjaan dan komunikasi dengan rekan-rekan sejawat bisa lancar dengan adanya fasilitas internet di mana-mana,” ujar warga Banda Aceh yang menjadi pegawai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh itu.
Tugas di Bappeda menuntutnya terjun ke lapangan, tetapi kemudian cepat menyampaikan laporan kepada pemimpinnya di kantor. Kewajiban cukup membuatnya repot pada masa lalu. Namun, sekarang tidak lagi, setelah ada fasilitas internet di dalam bus, yang membuatnya leluasa segera mengirimkan hasil lapangannya ke kantor.
“Apalagi kalau data itu mendesak, internet itu sangat membantu,” katanya. Jadi, sekarang Mahdi tidak perlu lagi terburu-buru meninggalkan lokasi di lapangan hanya untuk mengejar waktu membuat laporan di kantornya. Karena semua sudah menjadi lebih mudah. Selama masih ada di perjalanan, tugas kantor sudah bisa diselesaikan dengan baik.
Tentu saja tidak hanya dirinya yang teruntungkan oleh fasilitas semacam ini. Menurut Mahdi, fasilitas internet di berbagai tempat, khususnya yang gratis, telah membantu masyarakat dalam bekerja dan berkomunikasi. “Sekarang anak-anak juga sudah bisa memanfaatkan fasilitas tersebut. Untuk bermain dan belajar,” katanya.
Bahkan, katanya, internet membuat rakyat tidak bisa dibohongi lagi soal harga-harga, misalnya tentang harga hasil pertanian yang tiba-tiba anjlok atau sebaliknya naik drastis. Ini karena masyarakat sekarang mudah mengakses informasi dengan cepat tentang segala macam informasi, termasuk harga-harga hasil pertanian.
Apalagi bagi pekerja media yang membutuhkan pelaporan secara cepat untuk mengejar tenggat. Idrus, reporter di Banda Aceh, mengakui WiFi gratis yang disediakan di dalam bus umum sangat mendukung tugas-tugas jurnalistiknya.
“Kalau saya sedang dalam perjalanan lalu redaktur meminta foto atau tulisan, kan tinggal kirim, nggak perlu harus mencari warnet dulu. Bisa nge-charge laptop, lagi. Jadi nggak perlu takut kehabisan baterai,” kata Idrus sambil tersenyum.
Mengakses internet bagi masyarakat Aceh akhir-akhir ini memang seperti menjadi kebutuhan sehari-hari.
Di mana pun mereka berada seperti terasa tidak lengkap kalau belum menjangkau internet, meskipun hanya beberapa menit dalam sehari. Tentu saja kebiasanaan ini baru merambah sebagian kecil masyarakat bawah, berbeda dengan masyarakat kelas menengah yang sudah akrab dengan teknologi ini.

“Kantor” Kedua
Internet selain untuk berkomunikasi, juga digunakan untuk mengakses berita hingga bermain game online. Tak heran, dengan adanya fasilitas tersebut, warga Aceh yang duduk di warung kopi semakin “meluber”.
Dengan begitu, di warung kopi para tamu tidak hanya untuk beristirahat sejenak melepaskan rasa penat setelah lelah bekerja seharian, tetapi juga bisa menggunakan tempat itu untuk menyelesaikan pekerjaan. Bahkan, sebagian dari mereka menjadikan warung kopi sebagai kantor kedua.
Di Aceh akhir-akhir ini, ternyata pelayanan internet gratis tidak hanya diberikan pengelola warung kopi. Angkutan umum yang mengangkut penumpang antarprovinsi juga telah menyediakan fasilitas tersebut.
Kendaraan umum itu memanjakan penumpang mereka dengan memberikan fasilitas WiFi gratis, sehingga penumpang bisa menjelajahi dunia maya saat sedang berada di dalam bus tersebut.
Saat bus sedang bergerak dari Banda Aceh menuju Medan, Sumatera Utara, para penumpangnya tinggal menghidupkan notebook, kemudian perangkat teknologi itu langsung tersambung dengan WiFi yang disediakan bus.
Dengan fasilitas internet gratis yang disediakan angkutan tertua di Aceh tersebut, penumpang tidak hanya menghabiskan waktu dengan tidur di dalam bus, tetapi mereka juga dapat membuka notebook atau laptop untuk berselancar ke dunia maya.
Salah seorang pengelola loket bus PMTOH di Banda Aceh, Zainal Abidin, menuturkan kepada SH bahwa fasilitas WiFi gratis di dalam bus telah diberikan sejak lima bulan lalu. "Layanan ini kami berikan agar penumpang bisa tetap mengakses internet meskipun sedang dalam perjalanan," kata Zainal.
Dengan adanya fasilitas itu para penumpang merasa sangat terbantu selama di dalam perjalanan, karena mereka tetap bisa bekerja. "Kami juga menyediakan arus listrik sehingga mereka tidak perlu khawatir kehabisan baterai notebook," ujar Zainal.
Dia menjelaskan, angkutan perusahaan itu untuk jurusan Medan–Banda Aceh yang memberikan fasilitas WiFi gratis berjumlah delapan unit. "Kami berharap penumpang tetap nyaman saat berada di dalam bus dan saat menempuh perjalanan," ujarnya.
Syahrol, salah seorang warga Banda Aceh, juga mengakui dirinya lebih memilih menggunakan jasa angkutan yang menyediakan fasilitas WiFi gratis. “Dengan adanya fasilitas ini, saya sangat terbantu ketika tiba-tiba membutuhkan jaringan internet. Ini untuk mendukung pekerjaan saya,” ujar Syahrol.
Pegiat di salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) tersebut mengatakan, dirinya sering menggunakan jasa bus untuk mengunjungi beberapa daerah di pantai timur Aceh. “Harga tiket bus tersebut juga sama dengan angkutan umum lainnya,” tutur Syahrol lagi.
(Sinar Harapan)

1 komentar:

Unknown mengatakan...

kereta pakai wifi ada engga y bro?

Posting Komentar