Menikmati fasilitas internet (WiFi)
gratis di warung kopi? Itu sudah biasa bagi masyarakat Aceh. Bahkan
sejak 2007 sebagian besar warung kopi di Aceh telah menyediakan
fasilitas tersebut untuk pelanggan mereka.
Namun, bagaimana jika
menikmati internet gratis di dalam bus? Ini fenomena baru di Aceh,
malah di Indonesia.
Mahdi termasuk pria yang beruntung karena bisa
menikmati layanan itu di provinsi yang baru saja terlepas dari
peperangan dan bencana tsunami tersebut. “Pekerjaan dan komunikasi
dengan rekan-rekan sejawat bisa lancar dengan adanya fasilitas
internet di mana-mana,” ujar warga Banda Aceh yang menjadi pegawai
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh itu.
Tugas di
Bappeda menuntutnya terjun ke lapangan, tetapi kemudian cepat
menyampaikan laporan kepada pemimpinnya di kantor. Kewajiban cukup
membuatnya repot pada masa lalu. Namun, sekarang tidak lagi, setelah
ada fasilitas internet di dalam bus, yang membuatnya leluasa segera
mengirimkan hasil lapangannya ke kantor.
“Apalagi kalau data
itu mendesak, internet itu sangat membantu,” katanya. Jadi,
sekarang Mahdi tidak perlu lagi terburu-buru meninggalkan lokasi di
lapangan hanya untuk mengejar waktu membuat laporan di kantornya.
Karena semua sudah menjadi lebih mudah. Selama masih ada di
perjalanan, tugas kantor sudah bisa diselesaikan dengan baik.
Tentu
saja tidak hanya dirinya yang teruntungkan oleh fasilitas semacam
ini. Menurut Mahdi, fasilitas internet di berbagai tempat, khususnya
yang gratis, telah membantu masyarakat dalam bekerja dan
berkomunikasi. “Sekarang anak-anak juga sudah bisa memanfaatkan
fasilitas tersebut. Untuk bermain dan belajar,” katanya.
Bahkan,
katanya, internet membuat rakyat tidak bisa dibohongi lagi soal
harga-harga, misalnya tentang harga hasil pertanian yang tiba-tiba
anjlok atau sebaliknya naik drastis. Ini karena masyarakat sekarang
mudah mengakses informasi dengan cepat tentang segala macam
informasi, termasuk harga-harga hasil pertanian.
Apalagi bagi
pekerja media yang membutuhkan pelaporan secara cepat untuk mengejar
tenggat. Idrus, reporter di Banda Aceh, mengakui WiFi gratis yang
disediakan di dalam bus umum sangat mendukung tugas-tugas
jurnalistiknya.
“Kalau saya sedang dalam perjalanan lalu
redaktur meminta foto atau tulisan, kan tinggal kirim, nggak perlu
harus mencari warnet dulu. Bisa nge-charge laptop, lagi. Jadi nggak
perlu takut kehabisan baterai,” kata Idrus sambil
tersenyum.
Mengakses internet bagi masyarakat Aceh akhir-akhir ini
memang seperti menjadi kebutuhan sehari-hari.
Di mana pun mereka
berada seperti terasa tidak lengkap kalau belum menjangkau internet,
meskipun hanya beberapa menit dalam sehari. Tentu saja kebiasanaan
ini baru merambah sebagian kecil masyarakat bawah, berbeda dengan
masyarakat kelas menengah yang sudah akrab dengan teknologi ini.
“Kantor” Kedua
“Kantor” Kedua
Internet selain untuk berkomunikasi,
juga digunakan untuk mengakses berita hingga bermain game online. Tak
heran, dengan adanya fasilitas tersebut, warga Aceh yang duduk di
warung kopi semakin “meluber”.
Dengan begitu, di warung kopi para
tamu tidak hanya untuk beristirahat sejenak melepaskan rasa penat
setelah lelah bekerja seharian, tetapi juga bisa menggunakan tempat
itu untuk menyelesaikan pekerjaan. Bahkan, sebagian dari mereka
menjadikan warung kopi sebagai kantor kedua.
Di Aceh akhir-akhir
ini, ternyata pelayanan internet gratis tidak hanya diberikan
pengelola warung kopi. Angkutan umum yang mengangkut penumpang
antarprovinsi juga telah menyediakan fasilitas tersebut.
Kendaraan
umum itu memanjakan penumpang mereka dengan memberikan fasilitas WiFi
gratis, sehingga penumpang bisa menjelajahi dunia maya saat sedang
berada di dalam bus tersebut.
Saat bus sedang bergerak dari Banda
Aceh menuju Medan, Sumatera Utara, para penumpangnya tinggal
menghidupkan notebook, kemudian perangkat teknologi itu langsung
tersambung dengan WiFi yang disediakan bus.
Dengan fasilitas
internet gratis yang disediakan angkutan tertua di Aceh tersebut,
penumpang tidak hanya menghabiskan waktu dengan tidur di dalam bus,
tetapi mereka juga dapat membuka notebook atau laptop untuk
berselancar ke dunia maya.
Salah seorang pengelola loket bus PMTOH
di Banda Aceh, Zainal Abidin, menuturkan kepada SH bahwa fasilitas
WiFi gratis di dalam bus telah diberikan sejak lima bulan lalu.
"Layanan ini kami berikan agar penumpang bisa tetap mengakses
internet meskipun sedang dalam perjalanan," kata Zainal.
Dengan
adanya fasilitas itu para penumpang merasa sangat terbantu selama di
dalam perjalanan, karena mereka tetap bisa bekerja. "Kami juga
menyediakan arus listrik sehingga mereka tidak perlu khawatir
kehabisan baterai notebook," ujar Zainal.
Dia menjelaskan,
angkutan perusahaan itu untuk jurusan Medan–Banda Aceh yang
memberikan fasilitas WiFi gratis berjumlah delapan unit. "Kami
berharap penumpang tetap nyaman saat berada di dalam bus dan saat
menempuh perjalanan," ujarnya.
Syahrol, salah seorang warga
Banda Aceh, juga mengakui dirinya lebih memilih menggunakan jasa
angkutan yang menyediakan fasilitas WiFi gratis. “Dengan adanya
fasilitas ini, saya sangat terbantu ketika tiba-tiba membutuhkan
jaringan internet. Ini untuk mendukung pekerjaan saya,” ujar
Syahrol.
Pegiat di salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM)
tersebut mengatakan, dirinya sering menggunakan jasa bus untuk
mengunjungi beberapa daerah di pantai timur Aceh. “Harga tiket bus
tersebut juga sama dengan angkutan umum lainnya,” tutur Syahrol
lagi.
(Sinar Harapan)




Unknown

Posted in:
1 komentar:
kereta pakai wifi ada engga y bro?
Posting Komentar